Tampilkan postingan dengan label ternyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ternyata. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Desember 2013
Ternyata Sinyal Ponsel Ikut Berperan PadaTurunnya Populasi Lebah Madu
Populasi lebah madu dunia terus menurun. Selama bertahun-tahun para ilmuwan terus berusaha menemukan penyebabnya. Peneliti lebah, Dr. Daniel Favre, berpikir bahwa ia telah menemukan jawabannya. Ia mengatakan, "Anda, para pembaca dan saya juga, bisa jadi salah seorang penyebabnya."
Populasi lebah madu dunia terus menurun. Selama bertahun-tahun para ilmuwan terus berusaha menemukan penyebabnya. Peneliti lebah, Dr. Daniel Favre, berpikir bahwa ia telah menemukan jawabannya. Ia mengatakan, "Anda, para pembaca dan saya juga, bisa jadi salah seorang penyebabnya."
Doktor Favre percaya, ponsel adalah penyebab utama runtuhnya koloni lebah madu. Akibatnya adalah berkurangnya populasi lebah secara masif.
Teorinya berdasarkan beberapa studi yang dilakukannya dengan menggunakan ponsel di bawah sarang lebah. Saat diuji, peneliti menemukan bahwa serangga itu bereaksi saat ponsel dimatikan, standby, dan saat dipakai.
Peneliti mendapati bahwa ketika ponsel memancarkan sinyal secara aktif, lebah-lebah itu berperilaku liar dan mengirimkan tanda peringatan sama dengan saat mereka harus terbang secara berkelompok. Ketika ponsel dimatikan, perilaku lebah itu kembali tenang.
Favre percaya, bila sinyal ponsel mengganggu lebah, maka mereka akhirnya meninggalkan sarang. Bukti ini, meski menarik, tak serta-merta menjelaskan turunnya jumlah koloni lebah. Sebagai contoh, banyak koloni yang bermasalah justru terletak jauh dari aktivitas ponsel.
Ada juga teori lain yang menyatakan bahwa lebah menghadapi masa-masa sulit yang disebabkan oleh pestisida dan parasit.
Sumber :
tempointeraktif.com
Doktor Favre percaya, ponsel adalah penyebab utama runtuhnya koloni lebah madu. Akibatnya adalah berkurangnya populasi lebah secara masif.
Teorinya berdasarkan beberapa studi yang dilakukannya dengan menggunakan ponsel di bawah sarang lebah. Saat diuji, peneliti menemukan bahwa serangga itu bereaksi saat ponsel dimatikan, standby, dan saat dipakai.
Peneliti mendapati bahwa ketika ponsel memancarkan sinyal secara aktif, lebah-lebah itu berperilaku liar dan mengirimkan tanda peringatan sama dengan saat mereka harus terbang secara berkelompok. Ketika ponsel dimatikan, perilaku lebah itu kembali tenang.
Favre percaya, bila sinyal ponsel mengganggu lebah, maka mereka akhirnya meninggalkan sarang. Bukti ini, meski menarik, tak serta-merta menjelaskan turunnya jumlah koloni lebah. Sebagai contoh, banyak koloni yang bermasalah justru terletak jauh dari aktivitas ponsel.
Ada juga teori lain yang menyatakan bahwa lebah menghadapi masa-masa sulit yang disebabkan oleh pestisida dan parasit.
Sumber :
tempointeraktif.com
Minggu, 27 Oktober 2013
Hati Hati Ternyata Air Kemasan Botol Berbahaya
Hati-Hati....Ternyata Air Kemasan Botol Berbahaya - Air kemasan dalam botol yang sering dinilai praktis dan menyehatkan itu ternyata berbahaya dan bisa memicu masalah kesehatan.

Kebiasaan para orang tua yang sering memanaskan botol susu bayi sebelum digunakan, malah justru dapat meningkatkan kadar BPA, yang tentu saja akan lebih membahayakan jika zat ini tertelan oleh bayi. [mor]
[ source ]
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Amerika Serikat baru-baru ini membuktikan bahwa botol plastik minuman berbahan polikarbonat menghasilkan zat kimia biphenol A (BPA) yang dapat membahayakan kesehatan.
Dilansir Dailymail, zat kimia biphenol A diketahui dapat mengganggu perkembangan reproduksi pada hewan. Sementara pada manusia, BPA yang masuk ke dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit kardivaskular dan diabetes.
Para ilmuwan dari Harvard School of Public Health mengungkapkan partisipan yang meminum air dalam botol kemasan berbahan polikarbonat, ditemukan mengalami peningkatan kadar BPA dalam urine mereka.
Sebanyak 77 mahasiswa yang biasa minum air dari botol kemasan berbahan stainless steel dilibatkan dalam penelitian ini. Mereka kemudian diminta tim peneliti mengganti kebiasaannya dengan meminum air dari kemasan botol plastik berbahan polikarbonat.
Hasilnya, kadar BPA dalam urin meningkat 69% hanya dalam kurun waktu satu minggu.
“Kami menemukan bahwa meminum air dingin dari botol polikarbonat selama satu minggu dapat meningkatkan tingkat BPA dalam urin lebih dari duapertiganya,” ungkap Karin B. Michels.
Tak hanya pada orang dewasa, zat tersebut amat membahayakan bagi perkembangan bayi, bahkan mereka cenderung lebih berisiko. BPA digunakan dalam ratusan produk kemasan minuman termasuk di antaranya adalah botol susu bayi.
Dilansir Dailymail, zat kimia biphenol A diketahui dapat mengganggu perkembangan reproduksi pada hewan. Sementara pada manusia, BPA yang masuk ke dalam tubuh dapat meningkatkan risiko penyakit kardivaskular dan diabetes.
Para ilmuwan dari Harvard School of Public Health mengungkapkan partisipan yang meminum air dalam botol kemasan berbahan polikarbonat, ditemukan mengalami peningkatan kadar BPA dalam urine mereka.
Sebanyak 77 mahasiswa yang biasa minum air dari botol kemasan berbahan stainless steel dilibatkan dalam penelitian ini. Mereka kemudian diminta tim peneliti mengganti kebiasaannya dengan meminum air dari kemasan botol plastik berbahan polikarbonat.
Hasilnya, kadar BPA dalam urin meningkat 69% hanya dalam kurun waktu satu minggu.
“Kami menemukan bahwa meminum air dingin dari botol polikarbonat selama satu minggu dapat meningkatkan tingkat BPA dalam urin lebih dari duapertiganya,” ungkap Karin B. Michels.
Tak hanya pada orang dewasa, zat tersebut amat membahayakan bagi perkembangan bayi, bahkan mereka cenderung lebih berisiko. BPA digunakan dalam ratusan produk kemasan minuman termasuk di antaranya adalah botol susu bayi.

Kebiasaan para orang tua yang sering memanaskan botol susu bayi sebelum digunakan, malah justru dapat meningkatkan kadar BPA, yang tentu saja akan lebih membahayakan jika zat ini tertelan oleh bayi. [mor]
[ source ]
Langganan:
Postingan (Atom)