Tampilkan postingan dengan label kenapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenapa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Oktober 2013
Kenapa Kenari Yorkshire Sangat Populer
Beternak burung kenari bagi sebagian kalangan merupakan kegiatan yang dapat mengisi waktu luang sekaligus dapat menambah penghasilan. Bagi sebagian orang lainnya beternak burung kenari merupakan salah satu bidang bisnis yang menjanjikan, di sisi lainnya tren dan wacana mengenai beternak dan bisnis burung kenari ini sangat bersinggungan dengan popularitas pasar. Faktanya jenis kenari yorkshire hingga artikel ini ditulis masih menjadi salah satu jenis kenari yang paling banyak diminati.

Buktinya jenis kenari yorkshire sangat laris bak kacang goreng yang selalu ludes tiap kali ada berita mengenai kedatangannya untuk dijual di kalangan penghobi dan peternak kita. Uniknya lagi melalui jenis ini membentuk suatu mind set tersendiri bahwa kenari silangan yang sering diistilahkan F1,F2,F3 dan seterusnya membawa gen dari jenis yorkshire (padahal tidak demikian). Melihat kondisi lapangan yang seperti ini maka iseng-iseng saya mengadakan polling sederhana mengenai alasan mengapa banyak orang masih memaskotkan yorkshire sebagai jenis kenari pengangkat dan idaman.
Postur
68 (30%)
Volume Suara
52 (23%)
Harga Jual
68 (30%)
Warna
20 (9%)
Gengsi/Prestis
8 (3%)
Ikut Trend
4 (1%)
Total Suara: 220

Dari data ringan di atas maka bisa ditafsirkan mengenai sifat-sifat yang melekat pada jenis kenari yorkshire yang hingga saat ini masih digemari. Pilihan yang banyak diminati oleh pengunjung blog ini adalah meliputi postur dan harga jualnya yang tinggi yang membuat jenis kenari yorkshire mampu eksis di pasaran dan alasan tersebut saya rasa sangat masuk akal.
Maka bukan tidak mungkin setiap dari kita dapat menerobos fenomena pasar ini mengingat hobi adalah hal yang mampu membuat pribadi seseorang sangat terhibur sehingga dapat bersumber dari hal yang bermacam-macam. Dibutuhkan suatu dedikasi dan kecintaan yang luar biasa agar pelaku hobi dan bisnis mampu terus eksis dan dari mereka berjalan selaras agar tidak menjadi bumerang.
- TIPS SUKSES BETERNAK KENARI
- LAGU INDAH HYBRID PADA KENARI
- BETERNAK KENARI BAGI PEMULA
- CARA MEMILIH KENARI INDUKAN
- INFO TENTANG KENARI MULE
- CARA SINGKAT BETERNAK KENARI
- KENARI YORKSHIRE YANG POPULER
- KUALITAS PRODUKTIVITAS KENARI
- CARA MERACIK PAKAN KENARI
Senin, 28 Oktober 2013
Kenapa Sepeda Motor Sekarang banyak yang Injeksi
Kenapa Sepeda Motor Harus Injeksi Sih ? mungkin sebagian orang tidak tahu alasan engunaan mesin teknolog injeksi kenapa pula karburator yang konvensinal dihapus akan di Diganti injeksi yang memadukan kerja mekanis dan elektronis. mungkin beberapa banyak yang sangat menyayangkan kenapa? Karena karburator mudah dipahami bisa dengan bongkar baut saja bisa servis karbu. Tapi bagaimana untuk motor Injeksi
Baca juga artikel Karbulator Keihin PE28/ PE26
Bukan karena mudah dan susahnya di pahami tapi pada tuntutan masyarakat dunia. Untuk kelestarian hidup lingkungan terutama bumi. Agar tak cepat rusak karena polutan dari hasil pembakaran. untuk Sistem injeksi memiliki hasil emisi gas buang yang jauh lebih rendah. Sedang karburator, memiliki keterbatasan. mungkin seperti itulah alasanya.
Rendahnya emisi gas buang karena injeksi lebih terprogram ketimbang karburator. “Sistem injeksi memiliki banyak sensor yang mampu mengatur setiap kebutuhan mesin,” ungkap Slamet, Instruktur Yamaha Engineering School (YES).

ECU atau ECM. Mengatur kebutuhan bensin agar pembakaran sempurna
Salah satunya, sensor yang mampu membaca tekanan udara. Bahkan, lebih canggih sensor yang bisa membaca kelembaban. Dari Sensor ini, bisa menakar kebutuhan bensin optimal yang harus disemprotkan. Tidak kelebihan juga tidak kekurangan bensin. “Akhirnya menghasilkan pembakaran sempurna juga efisien,” tambah Slamet yang berkantor di Yamaha DDS, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Yang dimaksud pembakaran sempurna, bahan bakar dan udara bisa terbakar habis. Karena campuran ini bisa terbakar hampir 100 persen, maka emisi dihasilkan lebih minim.
Tapi, ketika masih aplikasi karburator, hasil pembakaran belum tentu bisa sempurna. Apalagi, karbu konvensional tanpa dilengkapi peranti semacam throttle position sensor. Pastinya ketika mesin bergasing di putaran bawah, campuran akan lebih kaya.
Padahal agar hasilkan pembakaran tepat, campuran antara udara dan bahan bakar harus punya perbandingan 12,7 : 1. Pembakaran akan tuntas jika 1 molekul bensin terbakar dengan 12,7 molekul udara.
Tapi, ketika masih aplikasi karburator, hasil pembakaran belum tentu bisa sempurna. Apalagi, karbu konvensional tanpa dilengkapi peranti semacam throttle position sensor. Pastinya ketika mesin bergasing di putaran bawah, campuran akan lebih kaya.
Padahal agar hasilkan pembakaran tepat, campuran antara udara dan bahan bakar harus punya perbandingan 12,7 : 1. Pembakaran akan tuntas jika 1 molekul bensin terbakar dengan 12,7 molekul udara.

Lubang di injektor semprotkan pengabutan lebih sempurna
Sistem karburator tidak selalu menghasilkan campuran yang ideal itu. Misalnya ketika langsam. Campurannya 11 : 1. Satu molekul bensin ketemu 11 molekul udara. Artinya campuran kaya atau kelebihan bensin. Udaranya kurang banyak. Masih tersisa bensin yang tidak terbakar.
"Sehingga, hidro carbon (HC) dan CO jadi tinggi,” tambah Slamet. Sebaliknya ketika mencapai putaran menengah-atas, campuran cenderung miskin alias lean. Bisa sampai 14 : 1 atau bahkan 17 : 1. Kebanyakan udara.
"Sehingga, hidro carbon (HC) dan CO jadi tinggi,” tambah Slamet. Sebaliknya ketika mencapai putaran menengah-atas, campuran cenderung miskin alias lean. Bisa sampai 14 : 1 atau bahkan 17 : 1. Kebanyakan udara.
Maka itu, injeksi memperbaiki kekurangan yang tak dimiliki karburator.Sistem injeksi yang canggih, bisa membuat campuran ideal. Karena pakai Electronic Control Unit (ECU) atau disebut juga Electronic Control Module (ECM). Bisa dikatakan otaknya injeksi. Tak hanya baca pengapian. Tapi, jumlah bahan bakar atau bisa disebut durasi injeksi sesuai kebutuhan mesin.

Banyak sensor dimiliki sistem injeksi, ini salah satunya
Begitu juga dalam metode pengukuran. Tak dalam keadaan stasioner seperti Euro 2 yang masih boleh menggunakan karbu. Karena karburator memang polutannya tinggi ketika rpm rendah.
Berbeda dengan sistem injeksi yang campurannya optimal pada semua tingkat rpm “Pengukuran nya menggunakan sistem ECE R40. Metode running, mirip keadaan sesungguhnya di jalan,” tutup Edhi.
Langganan:
Postingan (Atom)